Merekam Jejak yang Terlupakan
[/mpc_textblock]
Kota Semarang yang memiliki sejarah panjang dalam hal perkembangan masyarakatnya, terdiri dari multi etnis. Salah satunya adalah etnis Tionghoa.
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan keberadaan warga Tionghoa di Kota Semarang. Namun, diperkirakan kedatangan perantauan Tionghoa yang pertama kali di Kota Semarang terjadi pada abad ke-15.
Jejak kedatangan orang Tionghoa di Kota Semarang dapat ditelusuri di antaranya dari makam-makam Tionghoa (bong) kuno yang tersebar di beberapa lokasi.
Adalah dua orang sahabat, Pippo Agusto (49), seorang guru les privat, dan Bram Luska (37), seorang pengusaha, yang berniat untuk menelusuri dan mendokumentasikan keberadaan bong-bong tersebut.
Namun, proses ‘perburuan” bong ini tidaklah mudah. Sebagian besar lokasi pemakaman Tionghoa kuno kini telah beralih fungsi menjadi pemukiman penduduk. Selain itu, perburuan bong juga berpacu dengan waktu. Penjarahan, perusakan, dan pelapukan menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh mereka.
Selepas kuliah, hobi pada fotografi sempat terhenti sesaat karena kesibukannya mengurus pekerjaan. Sekitar tahun 2005, saat masa awal peluncuran kamera DSLR, minatnya pada fotografi kembali muncul. Sejak itu Lim aktif mengikuti banyak lomba foto dan memenangkan berbagai gelar juara, baik di tingkat lokal hingga nasional.
Selain mengikuti lomba, Lim juga kerap kali dipercaya menjadi juri di berbagai lomba foto dan diundang sebagai pembicara seminar/workshop tentang fotografi.[/mpc_icon_column]